Asap Dan Masa Depan Hutan Kita


OPINI By Humas 01 November 2015

ASAP DAN MASA DEPAN HUTAN KITA
Info dr Imam Prasojo  :
Siang ini, Sabtu 31 Oktober 2015, saya diundang untuk ikut berdiskusi dengan tema ASAP DAN MASA DEPAN HUTAN KITA. Dalam diskusi ini diundang berbagai pihak yang mewakili berbagai sudut pandang dan kepentingan. Ada pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pihak BNPB yang tugas utamanya menangani bencana, pihak asosiasi pengusaha hutan, para wartawan, hingga NGO dan pemerhati masalah lingkungan dan sosial.
Diskusi berjalan cukup hangat karena masalah utama terkait bencana asap dibicarakan secara terbuka. Terimakasih atas iklim demokrasi yang telah tumbuh sehingga masalah paling peka sekalipun dapat dibicarakan. Dan terimakasih pula pada kedewasaan yang telah tumbuh dalam forum itu sehingga diskusi yang sangat tajam sekalipun dapat berjalan dengan santun, tanpa pada makian dan umpatan.
Tentu saja pihak pengusaha perkebunan, khususnya kelapa sawit, menjadi sasaran utama kritik. Awal diskusi dibuka dengan pemaparan data untuk menunjukkan bahwa bencana asap terjadi karena adanya aksi pembakaran yang dengan sengaja dilakukan untuk kepentingan efisiensi dalam membuka lahan hutan. Istilah "pembakaran" mendapat penekanan, untuk menegaskan bahwa bencana ini jelas jelas akibat ulah tangan manusia: "man made disaster" bukan "natural disaster".
Cara berkebun di lahan gambut yang dilakukan dengan melakukan pembuatan kanal kanal yang konon diperkirakan memanjang hingga 2 juta kilometer, juga dituding sebagai biang keladi terjadinya kebakaran karena gambut yang awalnya basah, berubah menjadi kering. Kanal kanal yang sengaja dibuat pengusaha perkebunan untuk menurunkan tingkat keasaman tanah, dituding sebagai sebab meluasnya api.
Saat giliran pembicara yang mewakili pihak pengusaha perkebunan mendapat giliran berbicara, ia tentu menolak tuduhan tuduhan itu. Ia katakan bahwa pengusaha tentu berkepentingan untuk menjaga kebun agar tidak terbakar. Tak mungkin pengusaha membakar kebun sendiri karena tindakan itu tentu akan merugikan diri mereka sendiri. Data tandingan pun dipaparkan untuk menunjukkan bahwa pusat wilayah hutan yang terbakar justru terjadi di wilayah yang belum menjadi bagian konsesi. Dengan kata lain, kalau toh ada pembakaran pasti dilakukan oleh "oknum" masyarakat, bukan dari pihak pengusaha perkebunan. Perkebunan milik pengusaha seringkali terbakar karena api yang menjalar. "Jadi, kami harusnya dilihat sebagai korban. Bukan malah pelaku pembakaran" katanya. Perdebatan pun terus berlangsung, dan masing masing pihak mencoba menggunakan statistik sebagai penguat dalam mendukung argumen masing masing.
Kesan saya, selama tiga jam berdebat, wakil pengusaha perkebunan terlihat terpojok. Data yang diajukan terlihat lemah, apalagi bila dihadapkan dengan foto foto satelit yang menunjukkan bahwa persebaran titik api jelas terkonsentrasi di wilayah wilayah perkebunan sawit. Apakah ini menunjuk pada wilayah kebun yang tengah dikembangkan (dilakukan land clearing)? Berbagai data satelit memberikan indikasi kuat bahwa dimana dibuka perkebunan sawit secara besar besaran, di situlah kebakaran terjadi.
Saya bersyukur dapat mengikuti diskusi ini karena semakin memberi kesadaran pada saya bahwa ancaman kehancuran ekosistem di Indonesia benar benar di depan mata. Bahkan saya berani berkata bahwa bila masalah pengelolaan hutan masih dijalankan seperti saat ini, tak mustahil dalam waktu tak terlalu lama, kita akan kehilangan ribuan kilo meter persegi daratan kita karena tenggelam. Lahan gambut yang turun permukaannya, tak akan lama akan berubah menjadi rawa rawa permanen, baik karena air hujan atau pun air laut yang masuk ke wilayah perkebunan saat permukaan air laut naik karena "global warming".
Namun bagaimana pun juga, adanya kesediaan wakil dunia usaha untuk hadir dalam diskusi ini sangat dihargai. Paling tidak, kejujuran dan keberanian untuk mengemukakan pendapat dan kepentingannya sangat memperkaya diskusi siang ini. Harapan kita, tentu pada waktu mendatang akan ada solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah pelik ini demi kelangsungan ekosistem kita, bukan semata mata kepentingan bisnis semata.
Di akhir perdebatan, saya menyempatkan waktu untuk mengingatkan pentingnya langkah mendesak, yaitu penyelamatan para korban asap yang saat ini nyawanya sedang terancam. Perhatian utama harus diberikan pada kelompok paling rentan seperti balita, para manula, ibu hamil, dan warga yang menderita sakit. Tempat tempat singgah yang aman dari serbuan asap harus dibangun di banyak tempat. Pemerintah harus sigap. Warga juga jangan hanya menunggu. Solidaritas di semua lini sangat dibutuhkan. "Talking action" harus diiringi "Taking Action."
Akhirnya, saya pun tak lupa memperkenalkan kembali alat penyaring asap ciptaan Prof. I Gede Wenten (dosen ITB yang baru saya kenal tiga minggu lalu melalui diskusi di WA Group) yang bisa jadi dapat dijadikan salah satu solusi untuk membersihkan udara dalam ruang ruang perlindungan (shelter) yang terpapar asap. Kebetulan, tadi siang, dengan bantuan teman yang terampil dalam membuat iklan layanan masyarakat, saya menyelesaikan videoclip yang menjelaskan bagaimana alat penyaring asap yang dinamai FRESH ON 2015 digunakan. Semoga membantu!
#iPras2015
Sabtu 31 Oktober
Diskusi di MarkPlus, Sabtu, 31 Oktober 2015.
Watch "FRESH ON 2015 Alat Penyaring Asap" on YouTube - https[truncated by WhatsApp]