Sepucuk Surat Dari Jerman


Media By Humas 25 Maret 2016

Sepucuk Surat Dari Jerman

Sepucuk Surat Prof Huss
# Hutan Pendidikan Tidak Boleh Diapa-apakan?

Oleh Prof ABUBAKAR M LAHJIE MAgr PhD
Dekan Fakultas Kehutanan Unmul

Dalam kunjungan di kawasan hutan pendidikan Fahutan Unmul Samarinda di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) tiga bulan lalu, Prof Dr Juergen Huss bertanya kepada saya. Mengapa tegakan puspa tidak dilakukan penjarangan agar dapat diperoleh kualitas pohon yang baik?

Pertanyaan itu ia ajukan begitu melihat jeleknya pertumbuhan pohon hutan di kawasan konservasi tersebut: kurus dan tirus. Huss ke Kaltim bersama delegasi dari Jerman (Albert-Ludwigs-Universitat Freiburg) mengikuti seminar internasional bertajuk "Low Impact Forest Management For Efficient And Sustainable Supply Of Forest Resources and Ecosystem Service", 8 Desember 2015. Delegasi Jerman dipimpin Prof Dr Dirk Jaeger. Hadir pula sejumlah guru besar lainnya. Ia salah satu guru dari kolega saya di Fahutan Unmul, Prof Dr Maman Sustisna.

Saya sependapat dengannya karena ilmu saya bioekonomi. Bio ini berkaitan dengan silvikultur dan economic berkaitan dengan marketable. Namun saya katakan kepadanya, jika saya lakukan kegiatan penjarangan, akan banyak yang marah kepada saya . Apakah itu dari ahli silvikultur ataupun dari ahli konservasi.

Sebab kita tahu KRUS berfungsi sebagai kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati maka tidak boleh dilakukan penjarangan meskipun saya saat ini sebagai penanggungjawab hutan pendidikan tersebut.

Saya memintanya untuk menuliskan surat kepada saya tentang pemikirannya untuk perbaikan hutan pendidiakan kami/KRUS. Saya pikir orang akan lebih senang dan percaya kepada dia (selaku ahli dari Jerman) walaupun kita sama-sama setuju akan hal tersebut. Saya sendiri adalah pemrakarsa RSSI (Restorasi Sistem Silvikultur Indonesia) dan juga telah diterima dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.65/Menhut-II/2014 dalam areal izin usaha pemanfatan hasil hutan kayu pada hutan produksi (dipterokarpa).

Huss rupanya mengamini anjuran saya. Sekembali ke negaranya, ia melayangkan sepucuk surat. Isi suratnya diawali dengan menceritakan kembali diskusi kecil yang kami lakukan di KRUS. Mulai dari amatannya terhadap kondisi tegakan-tegakan hingga rekemendasinya, yakni meningkatan kualitas tegakan dengan penjarangan.

"Pesaing , yang kami lihat, yang berukuran sedang ( 20-30 cm dbh ) , dan Anda sebutkan -- sejauh yang saya ingat -- bahwa dilarang oleh hukum untuk memanen setiap batang di bawah diameter minimum tertentu," tulis Huss.

Argumen Huss terkait dua hal. Yakni mengenai perawatan polycyclic tradisional hutan alam, dan pengelolaan hutan sekunder.

Ia menyebut, perawatan polycyclic semacam ini telah diterapkan di banyak hutan di daerah tropis. Aturan utama adalah memanen batang berdiameter minimum ( 45 atau > 60 cm sesuai spesies) dengan menghitung volume, jumlah batang dan panjang siklus, 10-15 tahun. Seringkali tindakan ini diikuti penanaman spesies tertentu (pengayaan) yang dapat diperdagangkan.

Tapi secara umum, sistem ini tak berhasil karena kualitas sebagian besar tinggi batang pohon telah diekstrak. Acapkali tidak ada pertumbuhan kembali yang cukup untuk menggantikan spesies yang dipanen. Tegakan-tegakan semacam ini hanya menjadi "sampah" karena diameter dan tingginya yang buruk, nonmarketable.

Namun demikian, panen dari batang dengan diameter minimum masih jadi parameter utama untuk pengelolaan hutan alam di banyak negara tropis. Mungkin karena itu dianggap sebagai satu-satunya metode yang efektif untuk mengendalikan pemegang konsesi.

Bagaimana dengan pengelolaan hutan yang rusak? Menurut Huss, rehabilitasi hutan yang rusak serta pengelolaan hutan sekunder menjadi tugas yang berat bagi teknik silvikultur. Hutan dapat kembali berkembang baik setelah dilakukan penjarangan, masih adanya tegakan sisa, dan sebagian dengan regenerasi alami dari biji dari kawasan sebelah. Dan tentu saja perlu dilakukan perawatan intensif seperti dengan penjarangan untuk memberi ruang bagi pohon-pohon yang potensial, penarikan liana dan pendaki.

Manfaat dari perawatan ini ada dua. Pertama, nilai tapak meningkat. Namun, ini efek jangka panjang, sebagai pohon potensial dapat dipanen hanya ketika mereka telah mencapai diameter sasaran khusus. Kedua, batang yang dipotong untuk penjarangan dapat segera digunakan untuk sawtimber dan yang terkait tujuan energik.

Tapi seperti ia sebutkan, penjarangan, ternyata tak diizinkan. Peningkatan kualitas hanya bisa dengan
perlakuan silvikultur -- yang anggap ia sebagai salah satu tujuan utama untuk silvikultur tropis di masa depan. Ini bertentangan.

Tidak mungkin memulai kegiatan ini selama kendala politik -- dalam hal ini aturan larangan penebangan diameter minimum -- tidak dihilangkan atau ditentukan lebih detil. "Ya, inilah jawaban singkat atas pertanyaan apa yang harus dilakukan di hutan yang rusak dan sekunder," kata Huss dalam suratnya.

Huss pada hakikatnya menandaskan, adalah anggapan yang salah kalau hutan pendidikan tidak boleh diapa-apakan. Tidak boleh ditebang di bagian-bagian yang tidak diperlukan. Tidak boleh dilakukan penjarangan. Bagaimana mahasiswa akan bisa belajar kalau tidak boleh ini, tidak boleh itu. Dan saya sependapat dengannya.

Justru dengan penjarangan itu, kita memberi kesempatan kepada pohon yang dominan untuk tumbuh lebih besar. Sebab jika dibiarkan rapat, maka pohon-pohon itu tidak akan bisa tumbuh optimal. Mereka akan lencir, kurus dan tirus.(*)