Home Berita

DIskusi Buku "Saat Tambang Mengelola Keanekaragaman Hayati"

Pulau Kalimantan atau Borneo memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Sheil dkk (2010) menyebutkan bahwa petak hutan terkaya di Indonesia berada di Malinau (dulu termasuk dalam Provinsi Kalimantan Timur) yang berisi sekitar 205 spesies tumbuhan dengan kerapatan 759 individu pohon dalam satu hektar. Sementara di sisi lain, kegiatan penambangan batubara yang lebih banyak dilakukan dengan cara tambang terbuka (open pit mining) di Indonesia, termasuk di Kalimantan, merupakan salah satu contoh aktivitas yang yang dapat menyebabkan perubahan bentang alam terjadi pada areal sangat luas. Meskipun sektor pertambangan menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terbesar di Indonesia, namun ancaman degradasi lahan dan bahkan kepunahan satu jenis keanekaragaman hayati merupakan kehilangan yang tidak ternilai.

Mencermati fakta ilmiah ini, kegiatan penelitian dan konservasi merupakan investasi yang sangat penting untuk lebih mendalami kondisi habitat asli dan keanekaragaman tumbuhan di Kalimantan sekaligus upaya penyelamatan dan konservasi kekayaan hayati di Indonesia. Upaya konservasi tumbuhan pada areal penambangan batubara telah diinisiasi oleh PT Indo Tambangraya Megah (ITM) melalui anak-anak perusahaan, yakni PT Bharinto Ekatama (BEK) dan PT Indominco Mandiri (IMM), yang dimulai dari upaya penyelamatan keanekaragaman tumbuhan pada kawasan pra-tambang, dengan cara mengoleksi atau mengambil spesies tumbuhan yang memiliki potensi cukup tinggi baik secara ilmiah, ekonomi, maupun secara konservasi untuk dikonservasi secara in-situ dan ex-situ. Kegiatan konservasi secara in-situ dilaksanakan di areal pertambangan, sementara kegiatan konservasi ex-situ dilaksanakan di Kebun Raya Purwodadi (LIPI). Konservasi keanekaragaman hayati tersebut sebenarnya telah dimulai ITM sejak tahun 2010 hingga 2017, namun belum banyak diketahui masyarakat luas.

Berkenaan dengan maksud itu, Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman bekerjasama dengan PT Indo Tambangraya Megah (ITM) berencana melaksanakan Diskusi Buku “Saat Tambang Mengelola Keanekaragaman Hayati“ untuk memperkenalkan berbagai upaya konservasi keanekaragaman hayati ini kepada pemangku kepentingan pertambangan, publik akademisi, maupun masyarakat luas di tanah air. Buku tersebut merupakan hasil review kegiatan konservasi keanekaragaman hayati tumbuhan di kawasan pra dan pasca tambang, yang ditulis oleh peneliti dari Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan PT Bharinto Ekatama (BEK) dan PT Indominco Mandiri (IMM) yang merupakan anak perusahaan PT Indo Tambangraya Megah (ITM). Bentuk konservasi keanekaragaman tumbuhan yang telah dilakukan diharapkan bisa menjadi model dan memberikan inspirasi kepada dunia pertambangan batubara dalam mengelola lahan bekas tambang. Buku ini dapat membuka wawasan mengenai pentingnya konservasi keanekaragaman hayati, khususnya pada kawasan pra dan pasca penambangan batubara.

Untuk melihat Kerangka Acuan Kegiatan Diskusi Buku silahkan klik disini...