SAMARINDA – Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis (FKLT) Universitas Mulawarman sukses menggelar kuliah umum bertajuk "Mangrove Goes to Campus" pada Kamis, 30 April 2026. Acara yang dihadiri oleh 160 mahasiswa dari berbagai fakultas ini mengangkat tema edukatif mengenai silvofishery sebagai solusi berbasis alam dalam upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di Kalimantan Timur.
Ketua Panitia Kegiatan, Fitria Dewi Kusuma, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa kuliah umum ini dirancang secara khusus untuk membuka wawasan generasi muda terhadap potensi mitigasi kerusakan lingkungan di kawasan pesisir. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan sebagai sarana edukasi dan diseminasi pengetahuan, serta membagikan hasil penelitian terbaru kepada mahasiswa mengenai pengelolaan ekosistem mangrove berbasis solusi alam, khususnya melalui pendekatan silvofishery.
"Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki peningkatan pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif terkait ekologi mangrove, implementasi solusi berbasis alam melalui penerapan silvofishery, serta hasil-hasil penelitian ilmiah," ungkap Fitria. Ia juga menambahkan bahwa agenda ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran yang lebih tinggi di kalangan mahasiswa mengenai pentingnya peran mangrove dalam mendukung keberlanjutan lingkungan pesisir. Lebih lanjut, Fitria menekankan bahwa kuliah umum ini dirancang untuk memberikan wawasan berbasis studi kasus terkait pengelolaan mangrove di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, guna mendorong pemahaman terhadap praktik silvofishery sebagai salah satu alternatif rehabilitasi ekosistem yang berkelanjutan.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Direktorat Restorasi Mangrove melalui program M4CR. Perwakilan M4CR, Restu Widhastri, dalam sambutannya mengajak para mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang peduli pada isu deforestasi dan konversi lahan yang kini mengancam 23% dari total luasan mangrove dunia yang berada di Indonesia. Senada dengan hal tersebut, Dekan FKLT, Prof. Dr. Irawan Wijaya Kusuma, S.Hut., MP., menyoroti bahwa FKLT dalam tiga hingga empat tahun terakhir telah berkolaborasi dengan Pertamina Foundation untuk menanam lebih dari dua juta bibit mangrove. Beliau berharap pengetahuan dari kuliah umum ini dapat memicu keterlibatan langsung mahasiswa melalui program seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.
Sesi pemaparan materi menghadirkan tiga pakar di bidang kehutanan dan pesisir. Prof. Cecep Kusmana dari IPB University mengupas tuntas aspek ekologi dan pentingnya inovasi teknologi dalam rehabilitasi lahan, seperti metode Guludan. Selanjutnya, Dr. Suryanto dari Balai Perhutanan Sosial Kutai Kartanegara memaparkan implementasi silvofishery di Delta Mahakam dalam kerangka Perhutanan Sosial, dengan penekanan pada tantangan mengubah pola pikir masyarakat yang masih terpaku pada tambak konvensional. Melengkapi diskusi, akademisi FKLT, Dr. Rita Diana, membahas potensi blue carbon dan bagaimana praktik budidaya udang konvensional menyumbang jejak karbon yang tinggi, sehingga silvofishery dengan sistem seperti empang parit dan komplangan menjadi solusi krusial untuk menekan emisi sekaligus menjaga nilai ekonomi masyarakat.
Sebagai tindak lanjut pasca kegiatan, seluruh pihak menyepakati perlunya penguatan kolaborasi yang lebih intensif antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, komunitas pesisir, dan berbagai pihak terkait lainnya. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai sangat esensial untuk mewujudkan aksi nyata dalam implementasi praktik solusi berbasis alam, baik dalam kegiatan penelitian mendalam, pengabdian kepada masyarakat secara langsung, maupun pengembangan kurikulum pendidikan kehutanan di masa mendatang.



