SAMARINDA – Menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim dan perdagangan karbon, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kehutanan Wilayah V bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis (FKLT) Universitas Mulawarman menggelar Training of Trainers (ToT) Pelatihan Perhitungan Karbon Hutan dan Penyusunan Dokumen Aksi Mitigasi.
Kegiatan strategis ini secara resmi dibuka pada Senin, 13 Juli 2026, bertempat di Ruang Bengkirai, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis (FKLT) Universitas Mulawarman, Samarinda. Pelatihan ini diagendakan berlangsung selama lima hari hingga 17 Juli 2026, dan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan FKLT Unmul dan Balai P2SDM Wilayah V. Turut hadir dalam acara pembukaan tersebut, Kepala SMK Kehutanan Negeri Samarinda serta Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Kapusdiklat) SDM Kementerian Kehutanan, Dr. Tuti Herawati.
Dekan FKLT Universitas Mulawarman, Prof. Irawan Wijaya Kusuma, dalam sambutannya menekankan betapa luas dan strategisnya isu karbon saat ini. Beliau menyoroti adanya inisiatif konsep perhitungan karbon yang bahkan datang dari Jerman, menjadikan pelatihan ini sangat relevan.
"Pelatihan ini menjadi sangat strategis karena isunya luas dan tidak hanya fokus pada satu aspek. Ini juga berkaitan erat dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas," jelas Prof. Irawan.
Beliau juga menyampaikan antusiasmenya terhadap partisipasi para dosen muda FKLT. Kepada Kapusdiklat, Prof. Irawan berharap adanya masukan berkelanjutan terkait pengembangan kompetensi di FKLT yang menaungi program S1, S2, dan S3 Kehutanan dengan penerimaan SDM sekitar 350 orang per tahun. "Kami berharap pelatihan ini berorientasi pada persiapan lulusan kami agar lebih banyak yang terlatih, termasuk para trainer-nya. Mudah-mudahan peserta mendapatkan manfaat yang optimal selama lima hari ke depan," tambahnya.
Sementara itu, Kapusdiklat SDM Kemenhut, Dr. Tuti Herawati, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi ini. Ia mengingatkan kembali peran vital Kalimantan sebagai "jantung hutan dunia" yang dilintasi garis khatulistiwa.
"Dunia saat ini tidak lagi hanya memandang hutan dari sisi kayu atau Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), tetapi juga sebagai penyedia jasa lingkungan, salah satunya karbon sebagai penjaga emisi," tegas Dr. Tuti. Beliau memaparkan bahwa emisi karbon kini memiliki nilai ekonomi yang nyata, menggeser paradigma lama melalui prinsip polluter pays(pencemar harus membayar).
Dr. Tuti juga menyoroti komitmen Indonesia di kancah global untuk menekan angka emisi kurang lebih 29% dari baselinepada tahun 2030. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan basis data dan tata kelola yang tertib, akuntabel, transparan, dan berintegritas tinggi. Beliau mencontohkan keberhasilan pendanaan sukarela berbasis hasil (Result Based Contribution) dari Norwegia yang telah dirasakan manfaatnya oleh 3 Taman Nasional dan 1 Perhutanan Sosial di Indonesia.
Untuk menghadapi kemajuan yang sangat cepat ini, Dr. Tuti mengajak para peserta untuk memanfaatkan waktu lima hari ini secara maksimal guna menyusun dokumen aksi mitigasi dan memahami Sistem Registri Nasional (SRN).
"Buatlah lima hari ini sebagai sebuah pembelajaran baru ibarat di ruang Taman Kanak-Kanak (TK). Di usia TK, kita dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar dan antusiasme tinggi, sehingga cepat menangkap dan mempraktekkan hal baru. Saya titip kepada para Widyaiswara agar pelatihan ini dibuat menyenangkan," pesannya.
Di akhir sambutannya, Dr. Tuti juga menitipkan pesan khusus kepada FKLT Universitas Mulawarman terkait pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK). "KHDTK dapat menjadi laboratorium yang baik untuk mahasiswa sekaligus area pengumpulan karbon yang efektif, sehingga KHDTK kita benar-benar menjadi pusat pembelajaran ilmu kehutanan yang unggul," tutupnya.



